JAKARTA, 1 September 2026 – Center for Strategic Development Studies (CSDS) MITI menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Optimalisasi Mandatori Biodiesel B50”. Diskusi ini membedah kesiapan sektor hulu perkebunan kelapa sawit dalam memasok kebutuhan bahan baku tanpa memicu deforestasi baru, sekaligus menguji kompatibilitas teknis permesinan dan kesiapan industri otomotif nasional menjelang penerapan campuran 50% bahan bakar nabati.
Penerapan kebijakan mandatori B50 diproyeksikan membutuhkan pasokan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) domestik hingga 17,1 juta ton per tahun dari total produksi nasional yang berkisar 50–53 juta ton. Dalam diskusi tersebut, Dr. Muhammad Arif Budiman, Direktur Utama PT Orion Biosains Indonesia sekaligus peneliti genomika tanaman, menegaskan bahwa pemenuhan lonjakan kebutuhan bahan baku B50 tidak boleh diselesaikan melalui pembukaan lahan baru (ekstensifikasi), melainkan lewat peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat (intensifikasi) berbasis sains.
“Salah satu akar masalah terbesarnya adalah tingginya peredaran benih tidak murni atau non-Tenera yang di beberapa sentra perkebunan rakyat mencapai lebih dari 70%. Jika kita mampu menekan kontaminasi benih palsu ini kembali ke batas standar 2% melalui uji DNA dan percepatan peremajaan sawit rakyat (PSR), produksi tandan buah segar dan minyak sawit rakyat dapat melonjak hingga di atas 40% tanpa perlu menebang satu pohon pun di hutan alam kita,” tegas Arif.
Lebih lanjut, Arif menyoroti lambatnya realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) selama satu dekade terakhir yang rata-rata hanya mencapai 40 ribu hektar per tahun dari target ideal 185 ribu hektar per tahun. Keterlambatan ini dinilai menimbulkan kerugian ekonomi triliunan rupiah dan menuntut adanya terobosan pengawasan benih secara genetik di tingkat penangkar agar dana hibah peremajaan yang disalurkan tepat sasaran dan memberikan kepastian hasil bagi petani kecil.
Sementara itu, Dr. Makmuri Nuramin, Perekayasa Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pakar teknologi biodiesel, memaparkan evaluasi dari sisi efisiensi produksi dan performa mesin kendaraan. Ia menggarisbawahi bahwa penerapan B50 harus dipandang sebagai pengelolaan rantai nilai yang utuh, bukan sekadar pencampuran bahan bakar di hilir.
“Secara emisi dan sifat pembakaran, biodiesel sawit terbukti jauh lebih ramah lingkungan karena menurunkan kepekatan asap, karbon monoksida, serta meminimalkan pembentukan kerak arang pada ruang bakar piston. Namun, kita harus jujur terhadap karakteristik teknisnya. Biodiesel memiliki nilai kalor yang lebih rendah serta tingkat kekentalan dan kadar air yang lebih tinggi dibanding solar fosil, yang secara pengujian menyebabkan konsumsi bahan bakar lebih boros sekitar 10% hingga 20%.” jelas Makmuri.
Makmuri juga mengingatkan pentingnya mitigasi pada tangki penyimpanan jangka panjang untuk mencegah pertumbuhan mikroba akibat sifat bahan bakar yang mudah menyerap air, serta penyesuaian material karet atau segel pada mesin agar tahan terhadap sifat pelarut metanol. Di sisi lain, ia mendorong pemanfaatan produk samping bernilai ekonomi tinggi seperti gliserol murni dan pengolahan limbah asam lemak sawit (Palm Fatty Acid Distillate/PFAD) agar biaya pokok produksi biodiesel B50 menjadi lebih terjangkau bagi industri.
Lebih lanjut diskusi ini menawarkan rekomendasi tindak lanjut kebijakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Pertama, Pemerintah perlu melakukan mandatori Uji DNA untuk Program Subsidi BPDPKS. Hal ini menjadi sebuah keharusan yang mensyaratkan seluruh bibit yang disalurkan melalui dana PSR BPDPKS lolos uji DNA untuk menjamin kemurnian Tenera 98%. Sehingga menjamin kenaikan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) hingga 43% dimasa mendatang.
Kedua, Pemerintah perlu melakukan Sinergi Ekosistem Hulu-Hilir (Blended Finance) yang terlibat pada implementasi kebijakan B50. Penyaluran dana peremajaan harus melibatkan perbankan dan offtaker perusahaan besar guna memberi kepastian kepada petani rakyat yang harus menunggu 3-4 tahun masa panen awal.
Terakhir, Pemerintah perlu memastikan adanya standarisasi komponen otomotif. Dalam hal ini Pemerintah bersama GAIKINDO perlu membuat roadmap wajib standarisasi material komponen mesin (terutama karet seal dan filter injektor) yang 100% kompatibel dengan senyawa kimia B50.
Maka secara jangka panjang keberhasilan B50 tidak hanya terletak pada kapasitas blending (pencampuran) di tangki Pertamina, melainkan sudah harus dimulai sejak memilih DNA benih sawit unggul di hulu hingga kesiapan termodinamika mesin di hilir. Tanpa solusi inovasi, kebijakan B50 berpotensi memindahkan masalah dari impor solar ke pembukaan lahan sawit yang lebih luas.
Tentang CSDS Indonesia
Center for Strategic Development Studies (CSDS) adalah lembaga lembaga think-tank di bawah Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) yang berfokus pada perumusan kebijakan publik berbasis riset teknologi, dan inovasi lintas disiplin. Kami menjembatani kesenjangan antara inovasi sains dan pembuatan kebijakan untuk memastikan pembangunan nasional berjalan produktif, aman, dan berkelanjutan.
.
