The Center for Strategic Development Studies (CSDS) menyoroti tantangan besar dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Meskipun program ini bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi masyarakat dengan anggaran mencapai Rp 71 triliun pada tahun 2025, pelaksanaannya menjadi ujian krusial bagi kemampuan Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan. Persoalan utamanya adalah ketergantungan tinggi pada impor untuk sejumlah komoditas pangan utama yang menjadi bahan dasar menu MBG.
Tantangan Ketergantungan Impor Pangan dalam Program MBG
Kajian ini memaparkan data ironis mengenai komoditas pangan yang dibutuhkan program MBG. Meskipun tahu dan tempe adalah makanan khas Indonesia, bahan bakunya yaitu kedelai, sebanyak 87,7% masih berasal dari impor pada tahun 2024. Ketergantungan serupa terjadi pada daging sapi (55,5% impor) dan bawang putih (91,9% impor). Menurut standar FAO, sebuah negara mencapai swasembada jika self-sufficiency ratio (SSR) minimal 90%. Data Badan Pangan Nasional 2024 menunjukkan Indonesia belum mencapai swasembada pada sedikitnya 10 komoditas, termasuk beras (SSR 88,77%) dan kedelai (SSR 12,98%). Di sisi lain, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada untuk daging ayam, telur, dan bawang merah, yang bahkan mencatatkan surplus produksi.
Strategi Diversifikasi Pangan: Memanfaatkan Kekayaan Lokal
Sebagai solusi, CSDS mendorong strategi diversifikasi pangan dengan memaksimalkan kekayaan hayati Indonesia, yang memiliki 72 varietas sumber karbohidrat dan 100 varietas kacang-kacangan. Kajian Badan Pangan Nasional sebenarnya telah merekomendasikan penggunaan alternatif karbohidrat seperti jagung, sagu, dan sorghum, terutama di wilayah timur Indonesia. Namun, implementasi awal program MBG masih didominasi oleh nasi. Untuk itu, pemerintah didesak untuk memprioritaskan komoditas dengan SSR tinggi seperti pisang (SSR 100%) dan jeruk (SSR 95,64%). Selain itu, komoditas seperti ubi kayu dan sagu memiliki potensi besar, meskipun pemanfaatan lahannya masih minim, seperti sagu yang baru tergarap 3,86% dari potensi 5,5 juta hektar. Untuk menggantikan kedelai, kajian ini merekomendasikan pengembangan kacang lokal seperti kacang koro dan komak yang kaya protein dan mudah dibudidayakan.
Meningkatkan Produktivitas Petani untuk Ketahanan Pangan
Diversifikasi pangan harus diiringi dengan upaya peningkatan produktivitas petani. Saat ini, 32% dari lahan pertanian di Indonesia tercatat tidak produktif. Masalah utama yang dihadapi petani adalah penyaluran pupuk bersubsidi yang belum optimal, kekurangan tenaga penyuluh pertanian hingga 45.000 orang, dan lambatnya adopsi teknologi modern. Rekomendasi kebijakan yang diajukan meliputi perluasan akses bantuan berupa benih unggul dan pupuk, kemudahan pembiayaan seperti KUR dengan pendampingan, serta menghidupkan kembali program Sekolah Lapang untuk memperkuat peran penyuluh. Pemanfaatan teknologi seperti irigasi tetes dan combine harvester juga perlu didorong untuk efisiensi.
Secara keseluruhan, kajian ini menyimpulkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi momentum strategis untuk mengakselerasi swasembada pangan. Kunci keberhasilannya terletak pada komitmen pemerintah untuk serius menjalankan diversifikasi pangan berbasis potensi lokal dan secara masif meningkatkan produktivitas petani dalam negeri.
Program Makan Bergizi Gratis Sebagai Ujian Menuju Swasembada Pangan
Publikasi lainnya
